Masalah-Masalah yang Dihadapi Penulis

Profesi apa pun selalu ada hambatan atau masalah yang akan menyertainya. Masalah itu hadir bukan untuk melemahkan kita, melainkan untuk menguji sekuat dan segigih apa kita di bidang tersebut. Hadirnya masalah juga tidak seharusnya menjadikan kita mengeluh, melainkan tetap berusaha untuk menyelesaikannya.

Hal yang menyedihkan adalah jika kita tidak tahu, apa sebenarnya masalah kita. Sebab, ketidaktahuan akan masalah yang dihadapi akan menjerumuskan kita pada masalah-masalah baru. Untuk itu, dalam teori problem solving, memetakan masalah adalah pelajaran pertama.

Nah, apa saja masalah yang dihadapi oleh penulis, utamanya penulis pemula? Eja Bahasa telah menganalisisnya berdasarkan pengalaman kami menghadapi banyak penulis. Simak berikut ini.

  • Tidak fokus

Penulis cenderung tidak fokus pada tema yang ingin ditulisnya. Tak heran jika ia kerap beralih tema. Kadang kala, ia merasa bahwa tema yang ia tulis tidak menarik, lalu di saat yang berbeda menemukan tema baru. Ia pun ingin beralih ke tema yang baru saja ditemukan itu. Hal ini tidaklah dibenarkan dalam menulis. Mustinya, penulis menekuni tema yang akan digarap secara terus-menerus, menggali lebih dalam, merenungkan lebih jauh. Ibaratnya, Anda sudah memiliki pasangan, tetapi ketika keluar rumah, Anda menemukan orang yang lebih ideal daripada pasangan Anda. Apakah Anda akan berpaling padanya?

  • Tidak tahu mau nulis apa?

Ini adalah bagian memprihatinkan dari seorang penulis. Masa penulis bingung mau menulis apa? Tapi kenyataannya, hal ini terjadi. Ada banyak faktor, salah satunya adalah tidak memiliki pengalaman membaca, menonton, merenung, diskusi, bergaul, dan lain sebagainya. Singkatnya, penulis jenis ini tidak banyak melakukan interaksi dengan dunia di luar dirinya.

  • Kurang referensi

Kekayaan tulisan kita terdapat pada referensi yang kita baca. Semakin banyak referensi yang kita punya, semakin kaya pula tulisan kita. Sayangnya, kebanyakan penulis abai pada hal ini. Kerja menulis diselesaikan dengan menulis, padahal di belakangnya ada proses yang harus dilalui, yaitu memperbanyak referensi.

  • Terlalu banyak yang disampaikan

Tidak fokus pada satu tema membuat penulis ingin menyampaikan semua hal yang diketahuinya. Bukan menambah tulisan lebih bagus, melaikan semakin menjauh dari tema yang diharapkan. Apa yang disampaikan cenderung ngelantur tidak jelas juntrungannya.

  • Terjebak detail yang tidak penting

Kasus ini biasa terjadi pada penulis fiksi. Penulis bermaksud mendeskripsikan latar dengan jelas, tetapi terjebak pada detail. Alhasil, detail latar menjadi sangat panjang padahal tidak hal itu penting. Setelahnya, penulis sudah kehabisan ide dan tenaga untuk melanjutkan pada peristiwa dan pesan yang ingin disampaikan.

  • Stagnan (writer’s block)

Bagian ini akan menjadi pembahasan sendiri di laman ejabahasa.com ini. Banyak sebab yang mempengaruhi dan banyak pula solusinya. Namun secara garis besar, writers block berarti kondisi penulis sedang stagnan, tak bisa meneruskan tulisannya. Oleh sebab itu, penulis harus mengatur tulisan dan idenya. Salah satunya adalah dengan membuat draf atau outline yang akan ditulis.

  • Miskin perbendaharaan kata

Pernah membaca buku yang kata dalam kalimatnya selalu diulang-ulang? Nah, itulah kondisi penulis miskin perbendahaan kata. Bukan berarti Anda harus menghafalkan kata-kata dalam kamus, melainkan perbanyak membaca dan latihan menulis. Cobalah dengan mengubah-ubah bentuk kalimat yang sudah jadi tanpa mengubah esensinya.

  • Tidak percaya diri

Sudah menulis panjang, tetapi masuh ragu untuk mempublikasikannya. Itu tandanya Anda dalam konsisi tidak percaya diri. Seorang penulis wajib memiliki sifat percaya diri. Hanya dengan sifat itulah ia akan berhasil sebagai penulis. Ada pula, penulis yang takut mempublikasikan karyanya karena khawatir mendapatkan kritikan tajam dari pembaca. Kita perlu mengingat bahwa kritikan merupakan apresiasi pembaca kepada penulis agar lebih meningkatkan karyanya.

  • Puas dalam sekali menulis

Pernah merasa, begitu selesai menulis langsung merasa puas karena berhasil menyelesaikan tulisan? Kondisi ini tidak baik bagi Anda. Lalu apa tidak merasa puas? Ya, jangan. Lega boleh, tapi jangan merasa puas. Lega karena buah pikiran sudah dituangkan. Penulis yang merasa puas cenderung tidak mau melihat tulisannya kembali. Padahal, mungkin saja banyak kesalahan.

  • Menggurui

Menggurui adalah bentuk tulisan yang perlu kita hindari. Cenderung menyalah-salahkan, kalimat perintah, justifikasi, merupakan bagian dari bentuk tulisan menggurui. Penulis yang demikian menganggap pembaca tidak tahu apa-apa.

  • Tidak jujur

Kasus ini biasanya terjadi pada referensi. Penulis merasa tidak perlu mencantumkan referensi padahal apa yang ditulisnya merupakan karya pemikiran orang lain. Penulisan referensi bukan menandakan bahwa kita bodoh, melainkan untuk menunjukkan dalil atau pembenaran dari apa yang kita tulis.

Serangkaian masalah di atas harus diatasi. Setiap penulis memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan segala persoalan itu. Bisa jadi satu cara berhasil bagi Anda, tapi tidak untuk yang lain. Terlebih jika melihat kondisi psikologi penulis ketika masalah itu datang.

Jika Anda sudah berusaha menyelesaikannya tapi tak kunjung berhasil, Eja Bahasa menyediakan layanan kelas menulis. Anda bisa belajar secaa privat, juga berkelompok. Kumpulkan teman minimal 3 orang, kami akan membantu untuk menghasilkan buku yang Anda impikan. Silakan kontak kami.