Cara Membuat Kutipan

Pengetahuan memiliki sifat sosial dan historis. Oleh sebab itu, tidak mungkin kita menciptakan sebuah pengetahuan seratus persen murni dari pemikiran kita sendiri. Kita dipengaruhi oleh pendapat, ide, dan pemikiran orang lain, sehingga kita bisa mengembangkannya dengan cara mengkomparasikan, membandingkan, mendukung dan sebagainya.

Oleh sebab itu, seorang peneliti wajib secara terbuka menuliskan atau menyampaikan dari mana ia mendapatkan ide-ide tersebut. Tidak menyampaikan sumber dengan benar akan menjadikan seorang peneliti sebagai plagiat. Mengenai teknis pengutipan akan disampaikan pada bab selanjutnya.

Peneliti tidak perlu khawatir bahwa kutipan-kutipan yang ada dalam penelitiannya akan melemahkan hasil penelitiannya. Justru sebaliknya, seorang peneliti akan dipandang memiliki bacaan yang luas.

Pengutipan adalah pengambilan atau nukilan sebagian dari karangan orang lain yang diberi rujukan. Aturan mengenai perujukan kutipan mengikuti ketentuan-ketentuan sebagai berikut.

 

Kutipan Langsung

Kutipan ini merupakan pengambilan karangan orang lain yang ditulis sama persis dengan sumber aslinya, baik bahasa maupun ejaannya. Rujukan ditulis di antara tanda kurung atau catatan kaki. Pada bagian akhir teks penelitian rujukan tersebut harus tercantum dalam daftar pustaka. Format tanda kurung harus disertai nama, tanda koma, tahun terbitan, titik dua, spasi, dan diakhiri dengan nomor halaman, misalnya (Sulastri, 2008: 54). Namun jika nama pengarang berada di luar kurung, maka hanya tahun, titik dua, dan halaman pengutipan, misalnya Sulastri (2008: 54).

  1. Kutipan yang kurang dari empat baris dimasukkan ke dalam teks. Pada awal dan akhir pengutipan diberi dengan tanda petik (“). Sumber rujukan ditulis langsung sebelum atau sesudah teks kutipan.
  2. Kutipan yang terdiri dari empat baris atau lebih, diketik satu spasi, dimulai tujuh ketukan dari batas tepi kiri. Sumber rujukan ditulis langsung sebelum teks kutipan.
  3. Jika pengutipan menghilangkan beberapa bagian kalimat, maka diberi titik sebanyak tiga buah pada bagian yang dihilangkan. Jika menghilangkan satu kalimat atau lebih, maka diganti dengan titik-titik sepanjang satu baris itu.
  4. Jika peneliti ingin memberi penjelasan bagian yang dianggap penting, maka harus memberikan keterangan. Keterangan tersebut berada di antara tanda kurung, misalnya: (garis bawah oleh peneliti).
  5. Jika peneliti menganggap ada kesalahan dalam teks asli, dapat dinyatakan dengan menuliskan simbol (sic!) setelah kesalahan tersebut.
  6. Kutipan langsung ditampilkan untuk mengemukakan konsep atau informasi sebagai data.

Contoh kutipan langsung kurang dari 4 baris dapat diberikan berikut ini.

Aidit (1964: 53) menegaskan, “Kita tidak akan mengerti apa arti hakekat Manikebuisme dilapangan sastra dan seni tanpa mengerti kebangkrutan politik kaum sosialis kanan dan Masjumi …”

… lain pihak, tidak disangsikan bahwa “while internal validity is important, external validity may be irrelevant” (Nunan, 1992: 80). Hal ini …

Contoh kutipan langsung lebih dari 4 baris dapat diberikan berikut.

Peter Barry (1995: 172), dengan sederhana mendefinisikan New Historicism,

is that it is a method based on the parallel reading of the literary and nonliterary texts, usually of the same historycal periode. That is to say, New Historicism refuses (at least ostensibly) to ‘privilege’ the literary texts: instead of a literary ‘foreground’ and a historical ‘background’ it envisages and practises a mode of study in which literary and nonliterary texts are given equal weight and constantly inform or interrogate each other.

Kutipan Tidak Langsung

Kutipan tidak langsung berarti tidak sama dengan aslinya. Peneliti hanya mengambil pokok pikirannya dan kemudian menuliskannya dengan kalimat atau bahasanya sendiri. Dengan kata lain, peneliti memparafrasekan ide pokok pengarang dengan tidak mengubah substansinya. Adapun ketentuan kutipan tidak langsung adalah:

  1. Ditulis dengan dua spasi sebagaimana teks biasa.
  2. Semua kutipan harus dirujuk, baik ditulis sebelum atau sesudah kalimat yang merupakan kutipan.
  3. Nama pengarang yang ditulis hanya perlu menggunakan nama belakangnya, kemudian diikuti dengan tahun terbit dan halaman kutipan di antara tanda kurung.
  4. Jika ditulis pada akhir kutipan, rujukan ditulis dalam tanda kurung dan meliputi nama akhir, titik dua, tahun terbit, dan halaman. Contoh kutipan tidak langsung dapat diberikan berikut ini.

Menurut Taum (2013: 2), kritik NH menekankan sastra sebagai produk zaman, tempat, dan lingkungan penciptaannya, dan bukan sebagai sebuah karya genius yang terisolasi.

Hal ini termasuk diskursus akademis suatu zamannya, muncul di bawah model teoritis zamannya. Sastra tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang terpisah dari sejarah, sehingga terapung di udara seperti sebuah entitas yang terasing dan terpisah (Foucault, 2011: 85).

Jumlah Baris dalam Satu Paragraf

Paragraf atau alenia merupakan bagian awal penyampaian gagasan atau informasi. Penulisan antarparagraf harus memiliki ketersambungan satu sama lain. Di sini juga diuji kemampuan menulis seorang peneliti.

  1. Paragraf atau alinea harus menjorok ke kanan atau ketukan ketujuh dari batas tepi kiri. Dalam program komputer, peneliti dapat digunakan penjorokan baku (default indentation).
  2. Dalam setiap alinea, ada satu poin pokok yang ingin disampaikan. Kalimat selebihnya merupakan pendukung. Kalimat pokok tersebut tidak selalu harus di depan, melainkan bisa dimainkan dan diletakkan di mana saja. Kalimat pokok merupakan gagasan utama, sementara kalimat pendukung menjadi uraian tambahan.
  3. Jumlah baris dalam satu alinea adalah relatif. Disarankan untuk tidak terlalu pendek atau terlalu panjang. Ukuran relatif tersebut  ideal terdiri dari 4 sampai 10 baris.

Penulisan Daftar Pustaka yang Tepat

Ada banyak gaya penulisan daftar pustaka atau bibliografi dalam bahasa Inggris, seperti APA, MLA, dan CMS. Mana yang paling sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah ada aturan khusus untuk penulisan daftar pustaka dalam bahasa Indonesia? Bagaimana contoh penulisan daftar pustaka dalam bahasa Indonesia untuk berbagai jenis pustaka? Artikel ini akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Panduan dan Contoh dalam PUEBI

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) memberikan panduan penulisan daftar pustaka pada empat bagian yang terpisah sebagai berikut.

  1. Butir I.G.1 tentang Huruf Miring: Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.
  2. Butir III.A.3 tentang Tanda Titik: Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
  3. Butir III.B.8 tentang Tanda Koma: Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
  4. Butir III.D.5 tentang Tanda Titik Dua: Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka.

Empat panduan pada PUEBI tersebut memberikan tujuh contoh penulisan daftar pustaka sebagai berikut.

  1. Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat (Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  2. Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
  3. Moeliono, Anton. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.
  4. Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
  5. Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.
  6. Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.
  7. Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.

Pola Umum Penulisan

Semua contoh pada PUEBI memberikan pola penulisan daftar pustaka untuk buku seperti berikut.

Pengarang. Tahun. Judul. Penerbit.

Pola ini bisa dirumuskan dengan akronim sikad (siapa pengarangnya; kapan diterbitkan; apa judulnya; di mana dan oleh siapa diterbitkan). Berikut uraian polanya.

  1. Tiap bagian dipisahkan oleh tanda titik.
  2. Pengarang individu ditulis dengan nama belakang ditulis lebih dahulu yang dipisahkan dengan tanda koma dengan nama depan. Pengarang berupa institusi ditulis tanpa dibalik urutan namanya.
  3. Judul ditulis dengan huruf miring dengan kapitalisasi judul. Keterangan edisi atau jilid dipisahkan dengan tanda titik. Keterangan cetakan ditulis dalam tanda kurung.
  4. Informasi penerbit terdiri atas dua bagian, yaitu kota dan penerbit, yang dipisahkan dengan tanda titik dua.

PUEBI hanya memberikan contoh untuk penulisan daftar pustaka berupa buku. Lantas, bagaimana cara penulisan daftar pustaka yang baik dan benar dari sumber rujukan lain seperti artikel majalah atau tulisan di situs web? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita mesti mencari gaya penulisan yang mirip.

Ada banyak gaya penulisan daftar pustaka di dunia. Gaya penulisan yang terkenal antara lain APA (American Psychological Association), MLA (Modern Language Association), dan CMS (Chicago Manual of Style). Mari kita lihat penulisan menurut tiap gaya ini:

  • APA: Moeliono, A. (1989). Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.
  • MLA: Moeliono, Anton. Kembara Bahasa. Gramedia, 1989.
  • CMS: Moeliono, Anton. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Ternyata, gaya penulisan daftar pustaka menurut CMS (model pengarang-tanggal atau author-date) paling mirip dengan contoh penulisan pada PUEBI. Berdasarkan itu, kita dapat berikhtiar untuk menjadikan CMS sebagai rujukan penulisan daftar pustaka dari majalah, jurnal, situs web, dan lain-lain. Ulasan berikut membahas penulisan daftar pustaka dalam bahasa Indonesia sesuai dengan gaya CMS. Kami menyebutnya Gaya Sitasi Indonesia (GSI).

Penulisan Berdasarkan Sumber

Berdasarkan jenisnya, sumber daftar pustaka dapat dikelompokkan menjadi buku, terbitan berkala (periodical), sumber akademis, konten daring, multimedia, sumber tertulis lain, dan sumber lisan. Komunikasi pribadi, seperti surel dan telepon, umumnya tidak dimasukkan ke dalam daftar pustakan dan hanya dicantumkan di dalam teks.

Keterangan singkatan pada kolom “Penulisan”:

  1. P = Pengarang
  2. T = Tahun
  3. J = Judul
  4. J1 = Judul karya yang menjadi bagian J2
  5. J2 = Judul karya yang mengandung J1
  6. K = Nama kota dan/atau penerbit
  7. C = Catatan atau keterangan tambahan
  8. F = Format

Buku

Selain buku standar, variasi cara penulisan diterapkan pada sumber bagian buku, buku terjemahan, dan buku elektronik (buku-el). Sumber daring ditambahkan alamat situsnya pada bagian paling belakang.

Sumber Penulisan Contoh
Buku P. T. J. K. Lanin, Ivan. 2018. Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris? Jakarta: Buku Kompas.
Bagian buku P. T. “J1”. J2. K.  

Kridalaksana, Harimurti. 2007. “Bahasa dan Linguistik”. Dalam Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik, diedit oleh Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder, 3–14. Jakarta: Gramedia.

Terjemahan P. T. J. C. K.C = Penerjemah  

Rowling, J.K. 2008. Harry Potter dan Relikui Kematian. Terjemahan Listiana Srisanti. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Buku-el P. T. J. K. F.F = Format buku-el (Kindle, dll.)  

Endarmoko, Eko. 2018. Remah-Remah Bahasa. Jakarta: Bentang Pustaka. Google Play.

 

Terbitan Berkala

Terbitan berkala terdiri atas jurnal dan artikel (majalah, koran). Sumber daring ditambahkan alamat situsnya pada bagian paling belakang.

Sumber Penulisan Contoh
Jurnal P. T. “J1”. J2 C.C = Volume, Nomor (Tanggal): Halaman Ibrahim, Gufran A. dan Luh Anik Mayani. 2018. “Perencanaan Bahasa di Indonesia Berbasis Triglosia”. Linguistik Indonesia 36, no. 2: 107–116.
Majalah atau koran P. T. “J1”. J2, C.C = Tanggal  

Anderson, Benedict. 2001. “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Majalah Tempo, Desember: 35.

 

Sumber Akademis

Sumber akademis terdiri atas karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi) dan makalah.

Sumber Penulisan Contoh
Skripsi, tesis, atau disertasi P. T. “J”. C.C = Jenis, Institusi Lanin, Ivan. 2012. “Strategi peningkatan kualitas ilmiah Wikipedia bahasa Indonesia”. Tesis, Program Studi Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia.
Makalah P. T. “J”. C.C = Makalah, Acara  

Lanin, Ivan. 2018. “Penggunaan Bahasa dan Sastra dalam Teknologi Informasi sebagai Penguat Karakter Bangsa”. Makalah, Kongres Bahasa Indonesia XI.

 

Konten Daring

Konten daring terdiri atas situs web atau blog, media sosial, video daring, dan siniar (podcast).

Sumber Penulisan Contoh
Situs web P. T. “J1”. J2. C. Lanin, Ivan. 2019. “Konsultan, Konsultasi, dan Konsultansi”. LinguaBahasa. Diakses 23 Feb 2019. https://linguabahasa.id/konsultan-konsultasi-dan-konsultansi/
Media sosial P. T. “J”. C.  

Lanin, Ivan (@ivanlanin). 2017. “Kata itu netral. Tafsir manusia membuatnya memihak.” Twitter, 31 Agu 2017, 12.40. https://twitter.com/ivanlanin/status/ 902949189658673152.

Video daring P. T. “J”. C.  

Mojokdotco. 2018. “Ivan Lanin: Saya Wikipediawan, Bukan KBBI Berjalan”. Video YouTube, 22.04, 2 Apr. http://youtu.be/SkSkjWy9s34.

Siniar (podcast) P. T. “J1”. J2. C.  

Kompas Corner. 2019. “Ivan Lanin: Xenoglosofilia: Kenapa Harus Nginggris?”. OBSESIF. Audio podcast, 34.08, 10 Feb. https://shows.pippa.io/obsesif/episodes/ivan-lanin-xenoglosofilia_kenapa-harus-nginggris.

 

Multimedia

Multimedia terdiri atas siaran (televisi atau radio), film atau video, audio (lagu atau rekaman), dan foto. Sumber daring ditambahkan alamat situsnya pada bagian paling belakang.

Sumber Penulisan Contoh
Televisi atau radio J2. “J1”. C.C = Stasiun, Tanggal Mata Najwa. “Catatan Tanpa Titik”. MetroTV, 26 Juli 2017.
Film atau video  

J. T. F. C. K.F = Format (DVD, dsb.) bisa tidak dicantumkan

C = Sutradara

Ada Apa dengan Cinta? 2002. DVD. Disutradarai oleh Rudi Soedjarwo. Jakarta: Miles Production.
Lagu atau rekaman P. T. J. C. K. F.C = Konduktor

F = CD, dsb.

New York Philharmonic. 1948. Concerto in E minor: for violin and orchestra, op. 64 / Mendelssohn. Konduktor Bruno Walter. New York: Columbia. CD.
Foto P. T. J. K.  

Cartier-Bresson, Henri. 1938. Juvisy, France. Museum of Modern Art, New York City.

 

Sumber Tertulis Lain

Sumber tertulis lain terdiri atas referensi (ensiklopedia dan kamus), laporan, kitab suci, dan peraturan perundang-undangan. Sumber daring ditambahkan alamat situsnya pada bagian paling belakang.

Sumber Penulisan Contoh
Ensiklopedia atau kamus J2, T. Entri “J1”. K. C. KBBI Daring. 2018. Entri “kamus”.  Diakses 23 Feb 2019. https://kbbi.kemdikbud.go.id/ entri/kamus
Laporan P. T. J. K.  

Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan. 2018. Laporan Belanja Perpajakan 2016–2017. Jakarta: Kemenkeu. http://www.fiskal.kemenkeu.go.id/ publikasi/TER/ter2016-2017.pdf

Standar P. T. J. C. K.C = Nomor standar  

Badan Standardisasi Nasional. 2015. Sistem manajemen mutu – Persyaratan. Standar No. SNI ISO 9001:2015.

Kitab suci J. T. K.  

Alquran dan Terjemahannya. 2017. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.

Peraturan perundang-undangan P. T. J. K.  

Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Jakarta: Sekretariat Negara.

Sumber Lisan

Sumber lisan terdiri atas pidato, presentasi, atau kuliah dan wawancara.

Sumber Penulisan Contoh
Pidato, presentasi, atau kuliah P. T. “J”. C. Lanin, Ivan. 2018. “Penulisan Tesis dengan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar”. Kuliah di Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia, 17 April 2018.
Wawancara P. T. “J”. C.  

Obama, Michelle. 2009. “Oprah Talks to Michelle Obama”. Wawancara oleh Oprah Winfrey. O, The Oprah Magazine, 1 April 2009.

 

Variasi Bagian

Bagian-bagian di atas diberi singkatan untuk memudahkan pengodean. Variasi pada tiap bagian akan dijelaskan berikut ini.

Pengarang (P)

Nama pengarang dituliskan sebagai berikut.

  • Satu pengarang: Lanin, Ivan
  • Dua pengarang: Endarmoko, Eko dan Uksu Suhardi
  • Tiga pengarang: Nuradi, Felicia, Totok Suhardianto, dan Tendy Soemantri
  • Lebih dari tiga pengarang: Darnis, Azhari D., dkk.
  • Editor: Adib, Holy (ed.)
  • Nama satu kata: Soeharto
  • Lembaga: Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan
  • Pengarang tidak diketahui: n.n.
Tahun (T)

Tahun terbit dituliskan sebagai berikut.

  • Ada tahun: 2019
  • Tanpa tahun: t.t.
Judul (J, J1, J2)

Edisi atau jilid buku dapat ditambahkan setelah judul. Nomor cetakan dapat ditambahkan dalam tanda kurung. Contoh:

  • Kamus Linguistik. Edisi Keempat (Cetakan Kedua).
  • Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1.
Kota dan Penerbit (K)

Nama kota dan penerbit dipisahkan dengan tanda titik dua. Contoh: Jakarta: Gramedia.

Catatan (C)

Catatan atau keterangan tambahan bergantung pada jenis sumber.

Rujukan

  • Tim Pengembang Pedoman Bahasa Indonesia. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
  • Trim, Bambang. 2014. “Beginilah Menyusun Daftar Pustaka”. Manis Tebu. Diakses 23 Feb 2019. https://manistebu.com/2014/04/beginilah-menyusun-daftar-pustaka/.
  • West Virginia University. 2018. “Chicago Citation Style Guide”. WVU Libraries. Diakses 23 Feb 2019. https://libguides.wvu.edu/chicago
  • https://linguabahasa.id/penulisan-daftar-pustaka-yang-baik-dan-benar/

Ciri-Ciri Buku Bajakan

Buku bajakan merupakan buku yang dicetak secara ilegal tanpa memiliki izin baik dari penulis maupun dari penerbit.
Ada banyak pihak yang dirugikan jika Anda membeli buku bajakan, yaitu penulis, editor, proofreader, layouter, desain kover, penerbit, percetakan, dan toko buku. Buku bajakan telah merampas seluruh jerih payah dari awal hingga keuntungan nantinya.
Meski demikian, masih banyak masyarakat kita yang belum mengetahui ciri-ciri buku bajakan sehingga terjebak membelinya karena tergiur harga yang lebih murah.
Lalu bagaimana cara mengetahui ciri-ciri nya? Berikut kami kupas.

1. Harganya murah

Harga murah adalah satu-satunya tawaran menarik dari buku bajakan. Diproduksi secara massal dengan kualitas buruk.
Sebelum memutuskan membelinya, ada baiknya Anda membandingkan harga dengan toko buku lain, atau mudahnya bisa berselancar untuk mengetahui pasaran harganya.
Jangan hanya tergiur dari harganya, ya. Sebab di dalamnya ada hak-hak para pekerja buku yang dikebiri.

2. Bentuknya tidak simetris

Buku bajakan cenderung dicetak asal jadi, dipotong tanpa memperhitungkan presisinya. Alhasil, banyak sisi-sisi buku yang tampak menceng atau tidak sesuai garis potong.

 

3. Tidak diplastik

Maksudnya tidak dibungkus plastik tipis. Orang-orang percetakan biasa menyebutnya dengan wrapping. Menggunakan wrapping akan meningkat harga produksi, toh fungsinya hanya untuk membungkus buku.
4. Dicetak dengan kertas buram
Tentu Anda mengenal kertas buram. Di tempat fotokopi sangat mudah ditemukan. Mengapa dicetak dengan kertas ini? Sebab harganya jauh lebih murah. Ini bisa memotong ongkos produksi yang cukup. Akan tetapi, kertas jenis ini tidak nyaman untuk membaca dan membuat mata cepat lelah.
Kamu mau, gara-gara memilih harga buku yang lebih murah, matamu menjadi korban? Tentu tidak, dong.
5. Kualitas cetakan buruk
Selain dicetak di kertas jelek, kualitas cetakannya juga tak kalah jeleknya. Buku bajakan dicetak dengan mesin seadanya, baik untuk isi maupun kovernya.
Pada kover, warna cetakan akan cenderung meleset dan tidak beraturan. Sementara untuk isi, biasanya tidak bersih di setiap sisinya, entah ada sisa tinta maupun garis-garis yang tidak jelas. Selain itu, tinta cetakan tidak jelas. Di satu halaman bisa jelas dan mudah dibaca, di halaman lain agak susah dibaca.
6. Tidak ada di toko buku resmi
Toko buku resmi yang dimaksudkan seperti Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung, Sosial Agency, dan toko-toko buku lain yang lebih kecil.
Buku bajakan biasanya dijual di toko buku lowakan, kaki lima, bahkan di pameran-pameran buku yang diselenggarakan di kota-kota kecil.
Lalu bagaimana jika membelinya di toko online? Meski agak sulit membedakan, tapi coba kita kupas.
1. Teliti lebih dulu tokonya
Terkadang, toko online terang-terangan mencantumkan bahwa buku-buku yang dijualnya adalah buku bajakan.
Jujur ya, penjualnya? Jujur apaan, orang dia jual buku bajakan yang bisa disebut sebagai pencurian hak-hak pekerja buku. Hayooo…
Jika tidak mencantumkan, biasanya toko bukunya asing.
2. Sebaiknya beli di toko buku berbasis media sosial
Toko buku online yang beneran pasti punya media sosial atau medsos dan berjejaring dengan toko-toko yang lain. Berbeda dengan toko buku berbasis marketplace yang kita tidak tahu asal muasalnya, bahkan kadang alamatnya disembunyikan.
Tapi, tapi… Kalau di marketplace ada diskon bahkan free ongkir. Nah, itulah salah satu jebakan toko buku online di marketplace.
Siasatnya, Anda bisa mencari toko buku berbasis medsos di marketplace. Biasanya sih ada, kalau nggak ada, tanyakan saja sama adminnya.
3. Cek testimoni
Ini berlaku di marketplace. Sama seperti kalau kita mau membeli barang-barang kebutuhan lainnya, testimoni begitu penting untuk pertimbangan pembeli.
Jika ada yang komentar kualitas bukunya seperti yang sudah disebutkan di atas, sebaiknya hindari untuk membeli.
Nah, sekarang sudah tahu kan bedanya? Hindari buku bajakan agar dapur penulis-penulis kita tetap ngebul dan mereka bisa tetap produktif.

Penulisan “Si” dan “Sang” | Ivan Lanin

Masih banyak di antara penulis yang kebingungan dalam penulis “si” dan “sang”. Apakah keduanya ditulis kapital atau sebaliknya? Berikut adalah penjelasan Ivan Lanin.

Contoh perbedaan kapitalisasi “si” dan “sang”:
1. Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
2. Akhirnya si Buta berhasil menolong kekasihnya.
3. Ia mematuhi nasihat sang kakak.
4. Harimau marah kepada sang Kancil.
5. Kita berserah diri kepada Sang Pencipta.

Kaidah kapitalisasi ketika berada di tengah kalimat:
1. Kata “si” dan “sang” diawali huruf kecil.
2. Kata “Sang” dan kata setelahnya diawali huruf kapital untuk nama Tuhan.
3. Kata biasa (misalnya pengirim, kakak) setelah “si/sang” diawali huruf kecil.
4. Kata julukan (misalnya Buta, Kancil) setelah “si/sang” diawali huruf kapital.

Penggunaan Para, Kaum, dan Umat | Ivan Lanin

Di dalam bahasa Indonesia, ada tiga kata yang dipakai untuk menunjukkan makna kolektif kelompok orang: para, kaum, dan umat. “Para” tampaknya berasal dari bahasa Melayu, sedangkan “kaum” dan “umat” diserap dari bahasa Arab قَوْمٌ ‘masyarakat’ dan أُمَّةٌ ‘pandangan hidup; agama; generasi; kurun’.

Dari segi kelas kata, “para” termasuk artikula (kata sandang), sedangkan “kaum” dan “umat” termasuk nomina (kata benda). Itu sebabnya ada “kaum/umat (yang) beragama”, tetapi tidak ada “para (yang) beragama”, serta ada “kaum miskin”, tetapi tidak ada “para miskin”.

Dari segi pemakaian, “para” digunakan untuk kelompok orang dengan karakteristik tertentu, seperti pekerjaan atau status, misalnya para guru atau para pemuda. “Kaum” selalu bisa menggantikan “para”, misalnya kaum guru dan kaum pemuda, tetapi “para” tidak selalu bisa menggantikan “kaum”, misalnya “kaum sosialis” tidak bisa digantikan dengan “para sosialis”. Terakhir, “umat” hanya kita pakai untuk merujuk penganut agama atau makna generik manusia. Tidak ada “umat guru”, toh?

Dari segi kekolektifan, kelompok yang diwujudkan oleh “kaum” lebih besar daripada “para”. Coba rasakan perbedaan “kaum guru” dengan “para guru”. Demikian pula, kelompok yang diwujudkan oleh “umat” lebih besar daripada “kaum”, misalnya kita lebih condong memakai “kaum muslim” pada sebuah kampung daripada “umat muslim”.

Menjelaskan Hal Kompleks Secara Sederhana | Ivan Lanin

“Bagaimana menjelaskan hal kompleks secara sederhana?”

Saya sempat terperenyak dengan pertanyaan itu. Seorang peserta kelas menanyakannya kepada saya. Saya membayangkan bagaimana nalar saya bekerja ketika menjelaskan sesuatu. Saya langsung terpikir dua kata kunci: komponen dan proses. Saya melupakan satu kata kunci ketika itu: definisi.

Suatu hal kompleks biasanya saya uraikan berdasarkan definisi, komponen, dan proses. Definisi dibagi menjadi penggolong (kelompok besar) dan pengkhusus (apa yang berbeda). Berikutnya, komponen menjelaskan penyusun hal itu yang entah mengapa acap berjumlah tiga dan masing-masing bisa diuraikan lagi. Terakhir, proses mencuraikan pembentukan atau perubahan hal itu. Definisi, komponen, dan proses secara naluriah saya gunakan untuk menjelaskan hal kompleks secara (lebih) sederhana.

Contohnya ketika menjelaskan paragraf. Paragraf adalah bagian wacana (penggolong) yang mengungkapkan satu pikiran yang lengkap (pengkhusus). Untuk bisa menjelaskan paragraf, kita perlu memahami tiga komponen: jenis, pengembangan, dan keutuhan paragraf. Tiap komponen itu bisa diuraikan lagi, misalnya jenis paragraf dapat dibagi berdasarkan urutan, pernalaran, ekspresi, dan format. Proses pembuatan paragraf diawali dengan satu kalimat pokok yang selanjutnya dijabarkan oleh beberapa kalimat penjelas dan akhirnya diuji dengan kriteria keutuhan paragraf: kesatuan, kepaduan, kelengkapan, keruntutan, dan konsistensi.

Bahasa Nirgender | Ivan Lanin

Meski tidak banyak, bahasa Indonesia memiliki kata dan akhiran yang bertanda gender, misalnya karyawan-karyawati, seniman-seniwati, putra-putri, dan muslimin-muslimat. Penanda gender itu tampaknya kita warisi dari bahasa Sanskerta (-wan, -wati, -a, -i) dan bahasa Arab (-man, -in, -at). Kata maskulin (-wan, -man, -a, dan -in) bisa dipakai untuk laki-laki dan perempuan (nirgender), sedangkan kata feminin (-wati, -i, dan -at) hanya dipakai untuk perempuan (bergender).

Penanda gender (gender marker) dimiliki beberapa rumpun bahasa, seperti Indo-Eropa (misalnya bahasa Jerman), Afro-Asia (misalnya bahasa Arab), dan Dravida (misalnya bahasa Tamil). Namun, bahasa Indonesia termasuk rumpun bahasa Austronesia, yang pada umumnya terdiri atas bahasa-bahasa nirgender (genderless). Oleh sebab itu, saya lebih memilih untuk menggunakan kata bahasa Indonesia yang nirgender daripada yang bergender

Kata Berlebihan yang Sebaiknya Dihindari

Kita kerap menemukan kata yang sebenarnya tidak perlu ditulis. Hal ini karena penulis belum bisa atau lupa membedakan antara kalimat yang diucapkan dengan kalimat yang ditulis. Dalam Bahasa Indonesia, hal ini kerap disebut sebagai kemubaziran kata. Alhasil, terjadilah kata yang bertumpuk padahal memiliki arti yang sama.

Berikut kata yang sebaiknya Anda hindari dalam penulisannya:

  • agar supaya
  • hanya saja
  • adalah merupakan
  • para ibu-ibu, para bapak-bapak, para hadirin, dan lain sebagainya
  • banyak anak-anak, banyak teman-teman
  • amat sangat

Tentu masih banyak kata bertumpuk yang bisa ditemukan dalam pergaulan sehari-hari. Jika Anda menyadari, jangan pernah menggunakannya.

Jumlah Kata dalam Satu Paragraf

Berapa banyak kalimat dalam satu paragraf? Tidak ada ketentuan khusus dalam hal ini. Akan tetapi, dalam penulisan karya ilmiah, biasanya disarankan tiga sampai lima kalimat, atau minimal tiga baris. Apakah ketentuan tersebut sudah paten?

Dalam KBBI, paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru). Hal ini mengisyaratkan bahwa paragraf paling tidak mengandung dua kalimat: satu kalimat pokok dan satu kalimat penjelas.

Akan tetapi, berbeda dengan penjelasan Windy Ariestanty yang disampaikan kepada Ivan Lanin. Menurutnya, paragraf bisa saja hanya terdiri atas satu kalimat. Uraian bausastra Merriam-Webster tentang paragraf tampaknya berpihak pada Windy, “a subdivision of a written composition that consists of one or more sentences, deals with one point or gives the words of one speaker, and begins on a new usually indented line.”

Satu paragraf terdiri atas minimum satu kalimat dan maksimum tidak terbatas. Penggunaan satu paragraf satu kalimat biasa digunakan dalam penulisan jurnalistik atau di media massa, baik cetak maupun online. Sementara untuk paragraf yang tidak terbatas cenderung ditemukan dalam penulisan karya ilmiah.

Inti pokoknya bukan pada teknis berapa banyak jumlah kalimat, melainkan apakah ide pokok dalam tersampaikan dalam satu kalimat? Jika tidak, maka perlu ditambahkan kalimat selanjutnya sebagai penjelas. Penambahan ini kalimat penjelas ini disesuaikan dengan kebutuhan penulis. Akan tetapi, sebaiknya tidak terlalu panjang. Paragraf yang panjang cenderung membuat pembaca lelah dan bosan.