Blog

Ciri-Ciri Buku Bajakan

Buku bajakan merupakan buku yang dicetak secara ilegal tanpa memiliki izin baik dari penulis maupun dari penerbit.
Ada banyak pihak yang dirugikan jika Anda membeli buku bajakan, yaitu penulis, editor, proofreader, layouter, desain kover, penerbit, percetakan, dan toko buku. Buku bajakan telah merampas seluruh jerih payah dari awal hingga keuntungan nantinya.
Meski demikian, masih banyak masyarakat kita yang belum mengetahui ciri-ciri buku bajakan sehingga terjebak membelinya karena tergiur harga yang lebih murah.
Lalu bagaimana cara mengetahui ciri-ciri nya? Berikut kami kupas.

1. Harganya murah

Harga murah adalah satu-satunya tawaran menarik dari buku bajakan. Diproduksi secara massal dengan kualitas buruk.
Sebelum memutuskan membelinya, ada baiknya Anda membandingkan harga dengan toko buku lain, atau mudahnya bisa berselancar untuk mengetahui pasaran harganya.
Jangan hanya tergiur dari harganya, ya. Sebab di dalamnya ada hak-hak para pekerja buku yang dikebiri.

2. Bentuknya tidak simetris

Buku bajakan cenderung dicetak asal jadi, dipotong tanpa memperhitungkan presisinya. Alhasil, banyak sisi-sisi buku yang tampak menceng atau tidak sesuai garis potong.

 

3. Tidak diplastik

Maksudnya tidak dibungkus plastik tipis. Orang-orang percetakan biasa menyebutnya dengan wrapping. Menggunakan wrapping akan meningkat harga produksi, toh fungsinya hanya untuk membungkus buku.
4. Dicetak dengan kertas buram
Tentu Anda mengenal kertas buram. Di tempat fotokopi sangat mudah ditemukan. Mengapa dicetak dengan kertas ini? Sebab harganya jauh lebih murah. Ini bisa memotong ongkos produksi yang cukup. Akan tetapi, kertas jenis ini tidak nyaman untuk membaca dan membuat mata cepat lelah.
Kamu mau, gara-gara memilih harga buku yang lebih murah, matamu menjadi korban? Tentu tidak, dong.
5. Kualitas cetakan buruk
Selain dicetak di kertas jelek, kualitas cetakannya juga tak kalah jeleknya. Buku bajakan dicetak dengan mesin seadanya, baik untuk isi maupun kovernya.
Pada kover, warna cetakan akan cenderung meleset dan tidak beraturan. Sementara untuk isi, biasanya tidak bersih di setiap sisinya, entah ada sisa tinta maupun garis-garis yang tidak jelas. Selain itu, tinta cetakan tidak jelas. Di satu halaman bisa jelas dan mudah dibaca, di halaman lain agak susah dibaca.
6. Tidak ada di toko buku resmi
Toko buku resmi yang dimaksudkan seperti Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung, Sosial Agency, dan toko-toko buku lain yang lebih kecil.
Buku bajakan biasanya dijual di toko buku lowakan, kaki lima, bahkan di pameran-pameran buku yang diselenggarakan di kota-kota kecil.
Lalu bagaimana jika membelinya di toko online? Meski agak sulit membedakan, tapi coba kita kupas.
1. Teliti lebih dulu tokonya
Terkadang, toko online terang-terangan mencantumkan bahwa buku-buku yang dijualnya adalah buku bajakan.
Jujur ya, penjualnya? Jujur apaan, orang dia jual buku bajakan yang bisa disebut sebagai pencurian hak-hak pekerja buku. Hayooo…
Jika tidak mencantumkan, biasanya toko bukunya asing.
2. Sebaiknya beli di toko buku berbasis media sosial
Toko buku online yang beneran pasti punya media sosial atau medsos dan berjejaring dengan toko-toko yang lain. Berbeda dengan toko buku berbasis marketplace yang kita tidak tahu asal muasalnya, bahkan kadang alamatnya disembunyikan.
Tapi, tapi… Kalau di marketplace ada diskon bahkan free ongkir. Nah, itulah salah satu jebakan toko buku online di marketplace.
Siasatnya, Anda bisa mencari toko buku berbasis medsos di marketplace. Biasanya sih ada, kalau nggak ada, tanyakan saja sama adminnya.
3. Cek testimoni
Ini berlaku di marketplace. Sama seperti kalau kita mau membeli barang-barang kebutuhan lainnya, testimoni begitu penting untuk pertimbangan pembeli.
Jika ada yang komentar kualitas bukunya seperti yang sudah disebutkan di atas, sebaiknya hindari untuk membeli.
Nah, sekarang sudah tahu kan bedanya? Hindari buku bajakan agar dapur penulis-penulis kita tetap ngebul dan mereka bisa tetap produktif.

Penulisan “Si” dan “Sang” | Ivan Lanin

Masih banyak di antara penulis yang kebingungan dalam penulis “si” dan “sang”. Apakah keduanya ditulis kapital atau sebaliknya? Berikut adalah penjelasan Ivan Lanin.

Contoh perbedaan kapitalisasi “si” dan “sang”:
1. Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
2. Akhirnya si Buta berhasil menolong kekasihnya.
3. Ia mematuhi nasihat sang kakak.
4. Harimau marah kepada sang Kancil.
5. Kita berserah diri kepada Sang Pencipta.

Kaidah kapitalisasi ketika berada di tengah kalimat:
1. Kata “si” dan “sang” diawali huruf kecil.
2. Kata “Sang” dan kata setelahnya diawali huruf kapital untuk nama Tuhan.
3. Kata biasa (misalnya pengirim, kakak) setelah “si/sang” diawali huruf kecil.
4. Kata julukan (misalnya Buta, Kancil) setelah “si/sang” diawali huruf kapital.

Penggunaan Para, Kaum, dan Umat | Ivan Lanin

Di dalam bahasa Indonesia, ada tiga kata yang dipakai untuk menunjukkan makna kolektif kelompok orang: para, kaum, dan umat. “Para” tampaknya berasal dari bahasa Melayu, sedangkan “kaum” dan “umat” diserap dari bahasa Arab قَوْمٌ ‘masyarakat’ dan أُمَّةٌ ‘pandangan hidup; agama; generasi; kurun’.

Dari segi kelas kata, “para” termasuk artikula (kata sandang), sedangkan “kaum” dan “umat” termasuk nomina (kata benda). Itu sebabnya ada “kaum/umat (yang) beragama”, tetapi tidak ada “para (yang) beragama”, serta ada “kaum miskin”, tetapi tidak ada “para miskin”.

Dari segi pemakaian, “para” digunakan untuk kelompok orang dengan karakteristik tertentu, seperti pekerjaan atau status, misalnya para guru atau para pemuda. “Kaum” selalu bisa menggantikan “para”, misalnya kaum guru dan kaum pemuda, tetapi “para” tidak selalu bisa menggantikan “kaum”, misalnya “kaum sosialis” tidak bisa digantikan dengan “para sosialis”. Terakhir, “umat” hanya kita pakai untuk merujuk penganut agama atau makna generik manusia. Tidak ada “umat guru”, toh?

Dari segi kekolektifan, kelompok yang diwujudkan oleh “kaum” lebih besar daripada “para”. Coba rasakan perbedaan “kaum guru” dengan “para guru”. Demikian pula, kelompok yang diwujudkan oleh “umat” lebih besar daripada “kaum”, misalnya kita lebih condong memakai “kaum muslim” pada sebuah kampung daripada “umat muslim”.

Menjelaskan Hal Kompleks Secara Sederhana | Ivan Lanin

“Bagaimana menjelaskan hal kompleks secara sederhana?”

Saya sempat terperenyak dengan pertanyaan itu. Seorang peserta kelas menanyakannya kepada saya. Saya membayangkan bagaimana nalar saya bekerja ketika menjelaskan sesuatu. Saya langsung terpikir dua kata kunci: komponen dan proses. Saya melupakan satu kata kunci ketika itu: definisi.

Suatu hal kompleks biasanya saya uraikan berdasarkan definisi, komponen, dan proses. Definisi dibagi menjadi penggolong (kelompok besar) dan pengkhusus (apa yang berbeda). Berikutnya, komponen menjelaskan penyusun hal itu yang entah mengapa acap berjumlah tiga dan masing-masing bisa diuraikan lagi. Terakhir, proses mencuraikan pembentukan atau perubahan hal itu. Definisi, komponen, dan proses secara naluriah saya gunakan untuk menjelaskan hal kompleks secara (lebih) sederhana.

Contohnya ketika menjelaskan paragraf. Paragraf adalah bagian wacana (penggolong) yang mengungkapkan satu pikiran yang lengkap (pengkhusus). Untuk bisa menjelaskan paragraf, kita perlu memahami tiga komponen: jenis, pengembangan, dan keutuhan paragraf. Tiap komponen itu bisa diuraikan lagi, misalnya jenis paragraf dapat dibagi berdasarkan urutan, pernalaran, ekspresi, dan format. Proses pembuatan paragraf diawali dengan satu kalimat pokok yang selanjutnya dijabarkan oleh beberapa kalimat penjelas dan akhirnya diuji dengan kriteria keutuhan paragraf: kesatuan, kepaduan, kelengkapan, keruntutan, dan konsistensi.

Bahasa Nirgender | Ivan Lanin

Meski tidak banyak, bahasa Indonesia memiliki kata dan akhiran yang bertanda gender, misalnya karyawan-karyawati, seniman-seniwati, putra-putri, dan muslimin-muslimat. Penanda gender itu tampaknya kita warisi dari bahasa Sanskerta (-wan, -wati, -a, -i) dan bahasa Arab (-man, -in, -at). Kata maskulin (-wan, -man, -a, dan -in) bisa dipakai untuk laki-laki dan perempuan (nirgender), sedangkan kata feminin (-wati, -i, dan -at) hanya dipakai untuk perempuan (bergender).

Penanda gender (gender marker) dimiliki beberapa rumpun bahasa, seperti Indo-Eropa (misalnya bahasa Jerman), Afro-Asia (misalnya bahasa Arab), dan Dravida (misalnya bahasa Tamil). Namun, bahasa Indonesia termasuk rumpun bahasa Austronesia, yang pada umumnya terdiri atas bahasa-bahasa nirgender (genderless). Oleh sebab itu, saya lebih memilih untuk menggunakan kata bahasa Indonesia yang nirgender daripada yang bergender

Kata Berlebihan yang Sebaiknya Dihindari

Kita kerap menemukan kata yang sebenarnya tidak perlu ditulis. Hal ini karena penulis belum bisa atau lupa membedakan antara kalimat yang diucapkan dengan kalimat yang ditulis. Dalam Bahasa Indonesia, hal ini kerap disebut sebagai kemubaziran kata. Alhasil, terjadilah kata yang bertumpuk padahal memiliki arti yang sama.

Berikut kata yang sebaiknya Anda hindari dalam penulisannya:

  • agar supaya
  • hanya saja
  • adalah merupakan
  • para ibu-ibu, para bapak-bapak, para hadirin, dan lain sebagainya
  • banyak anak-anak, banyak teman-teman
  • amat sangat

Tentu masih banyak kata bertumpuk yang bisa ditemukan dalam pergaulan sehari-hari. Jika Anda menyadari, jangan pernah menggunakannya.

Jumlah Kata dalam Satu Paragraf

Berapa banyak kalimat dalam satu paragraf? Tidak ada ketentuan khusus dalam hal ini. Akan tetapi, dalam penulisan karya ilmiah, biasanya disarankan tiga sampai lima kalimat, atau minimal tiga baris. Apakah ketentuan tersebut sudah paten?

Dalam KBBI, paragraf adalah bagian bab dalam suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dengan garis baru). Hal ini mengisyaratkan bahwa paragraf paling tidak mengandung dua kalimat: satu kalimat pokok dan satu kalimat penjelas.

Akan tetapi, berbeda dengan penjelasan Windy Ariestanty yang disampaikan kepada Ivan Lanin. Menurutnya, paragraf bisa saja hanya terdiri atas satu kalimat. Uraian bausastra Merriam-Webster tentang paragraf tampaknya berpihak pada Windy, “a subdivision of a written composition that consists of one or more sentences, deals with one point or gives the words of one speaker, and begins on a new usually indented line.”

Satu paragraf terdiri atas minimum satu kalimat dan maksimum tidak terbatas. Penggunaan satu paragraf satu kalimat biasa digunakan dalam penulisan jurnalistik atau di media massa, baik cetak maupun online. Sementara untuk paragraf yang tidak terbatas cenderung ditemukan dalam penulisan karya ilmiah.

Inti pokoknya bukan pada teknis berapa banyak jumlah kalimat, melainkan apakah ide pokok dalam tersampaikan dalam satu kalimat? Jika tidak, maka perlu ditambahkan kalimat selanjutnya sebagai penjelas. Penambahan ini kalimat penjelas ini disesuaikan dengan kebutuhan penulis. Akan tetapi, sebaiknya tidak terlalu panjang. Paragraf yang panjang cenderung membuat pembaca lelah dan bosan.

Aturan Pemakaian “Tanda Pisah” atau Strip | Ivan Lanin

Dalam ejaan bahasa Inggris ada dua tanda pisah, yaitu yang pendek (–) dan yang panjang (—). Yang pertama disebut “en dash”, sedangkan yang kedua disebut “em dash”. Tanda pisah pendek digunakan di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat untuk menunjukkan rentang, misalnya 1926–2016, 20 Maret–20 Juni 2020, atau Cicaheum–Ciroyom. Tanda pisah panjang digunakan untuk membatasi penyisipan penjelasan atau keterangan—seperti ini—dalam kalimat.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) Edisi Keempat (2016) hanya mencantumkan “tanda pisah” yang fungsinya mencakup fungsi tanda pisah pendek dan tanda pisah panjang seperti yang diuraikan di atas. Bentuk tanda yang digunakan PUEBI seperti tanda pisah panjang (—). Beberapa buku menggunakan istilah “sengkang” sebagai sinonim “tanda pisah”. Jadi, ada “sengkang pendek” dan “sengkang panjang”.

Serpihan-Serpihan Perjalanan Ende Riza

Lahir dari lingkungan pesantren karena kakek Kyai Busyairi adalah pendiri pondok pesantren saringan, tukang kayu banyuwangi. Enderiza kecil hidup dikalangan yang berbasis nilai-nilai islami dengan tatanan Hidup yang terpola dan tersistim. Enderiza tumbuh menjadi pribadi yang berpadu padan antara seni dan pesantren, karena abah dan ibunya seorang guru yang memiliki jiwa seni. Yaitu seni pidato, drama, dan teater.

Sejak TK Enderiza sudah tampak bakat seni yang mengalir didirinya, kesukaannya dibidang tari, walau tidak mudah mendapatkan restu eyang kakek karena pemahaman bidang seni dipersepsikan tidak sejalan dengan nilai-nilai yang bersifat rilegius walau akhirnya sang kakek akhirnya mengijinkan tanpa terwakili lewat kata-kata.

Tidak hanya seni tari yang menguat didiri Enderiza, tapi abahnya yang seorang guru agama ternyata memberikan ruang bagi Enderiza untuk ikut bermain drama disalah satu sekolah SMP tempat abahnya mengajar.

Uniknya karena Enderiza kecil masih belum bisa membaca, maka media menghafal dialog ternyata menggunakan suara rekaman di kaset. Setiap dialog-dialog direkam, lewat pendengaran dan ketajaman Ederiza maka dialog-dialog itu merasuk kuat di ingatan bawah sadar yang memiliki potensi 88% kata para ahli. Masa kecil Enderiza yang diwarai dinamika hidup menjadikan empiris atau pengalaman memorinya bisa mewarnai selera seni yang dimiliki.

Menginjak sekolah SD Enderiza memang tidak berprestasi dimata pelajaran tapi kuat menonjol dibidang seni dan pengalaman kecilnya merambah di dunia seni yang bermain seni lawak atau komedi. Beberapa kali guru olah raganya memotivasi dan membina kelompok lawaknya sehingga memberi ruang tampil untuk membuat suasana segar dalam acara setiap acara di sekolah.

“Buatku kegagalan yang sangat menyakitkan adalah ternyata ketika kelompok lawakku tampil setengah jam, satupun tak penonton yang ketawa. Aku sebenarnya berharap satu atau dua penonton bisa ketawa walaupun tawa tersebut adalah tawa  basa basi. Mungkin itulah resiko sehingga tampilan lawak kami serasa basi. Tapi pengalaman mengajarkan agar aku dan kawan- kawan tampil percaya diri dan tanggung jawab atas segala kegagalan adalah sukses yang belum terjadi dan akan terjadi. Pada saat lulus dan masuk di SMP, bakat lawak kelompokku tetap tersalur dan makin berkembang.”

Hingga akhirnya kami juara satu lomba lawak di SMP tersebut.

Setelah peristiwa kompetisi lawak serasa tidak ada yang menarik dalam dinamika hidupku.

Hingga aku putuskan setelah lulus SMP, abah dan Ibu merestui aku untuk hijrah di kota Jember dan memasuki babak baru, selamat datang siswa siswi di Madrasah Aliyah Negri Jember. Di MAN ini lagi-lagi prestasi sekolahku tak kunjung bagus kemungkinan otak kananku terlalu dominan yang mengolah jiwa seniku. Namun aku tak boleh mengkambing hitamkan otak kiriku yang buruk dibidang matematika dan pelajaran lain. Hanya pelajaran menggambar saja yang nilaiku paling unggul itupun selalu menggambar gunung jika mendapat tugas menggambar pemandangan lagi-lagi ini soal mindset, siapapun orangnya disuruh menggambar pemandangan rasanya tidak mantap kalau tidak ada gunung.. hahahaha..

Sekali lagi karena otak kananku terlalu dominan maka ada satu lagi dibidang seni yang membuat musikkalitas ku menjadi sangat sebuah kelompok band alat music yang kupegang adalah keyboard .Kelompok bandku selalu mendapatkan kesempatan pentas dari desa ke desa, dari acara satu keacara lain.

Itupun tema lagu selalu bertema egois. Acara islami atau acara keagamaan tetap kita hibur audience dengan lagu-lagu cadas godbles dan lagu rock lainnya , ternyata jamaah pun kepalanya bergerak mengikuti kerasnya music cadas. Faham gak faham penonton, yang penting lehernya menari ala jaelangkung.

Disinilah Enderiza kecil mendapat ceko’an hidup sehingga makin mendapat sinyal nalurinya untuk mencari kampus yang bisa menyalurkan bakat seninya setelah lulus SMU atau MAN.

Dengan tatapan kosong, berwajah lugu rambut ndeso dengan wajah berbinar-binar mengucapkan kata di dalam hatinya..Selamat datang Yogyakarta…!!!

Dengan dibarengi semangat bertanya kesana kesini akhirnya Enderiza tertambat hatinya di sebuah kampus yang bernama ASDRAFI(Akademi Seni Drama dan Film Indonesia). Dimanakah kampus Asdrafi? Tanyaku kepada seseorang yang duduk di lantai, seseorang tersebut menjawab dengan tawa: hahaha ya dilantai yang kau injak ini!! hahaha. Pucat pasi Enderiza sambil ngeloyor mengucapkan maturnuwun. Kumantapkan hatiku untuk mendaftar sebagai mahasiswa di ASDRAFI. Kulonuwun…. monggo kata seseorang yang menggunakan kacamata tebal yang akhirnya kuketahui beliau bernama Romo Ebnu Chaeri.

ASDRAFI: Akademi seni drama dan film Indonesia nama sangat megah dan spektakuler  namun tidak dibarengi wujud fisik yang ternyata hanya sebuah gedung pendopo yang disekat-sekat menjadi kelas belajar. Oh my god. Bangga aku menjadi Mahasiswa Asdrafi… walau kebanggaan ini tidak serta merta dibarengi dengan menceritakan fisik yang sesungguhnya kepada orang tuaku. Karena beberapa kali orang tuaku hanya aku tunjukkan Kampus Asdrafi sebatas melihat pintu gerbangnya saja tanpa mampu untuk bisa melihat pendopo dan kelas-kelasnya. Apakah ini yang disebut bangga tapi malu… ah wallahualam….

 

Ospek Semi Militer

Aku jalani ospek yang menurutku gila total karena konsep ospeknya cukup ekstrem dengan selalu menciptakan tekanan, presier dan bentakan-bantahan walau kadang kakak panitia dalam mengekspresikan bentakannya bukan karena wibawa yg dimiliki tapi hanya sekedar bentakan warisan dari kakak-kakak seniornya alias para pendahulu. Yang selalu menciptakan hukuman-hukuman yang tidak nalar dan sulit diterima akal sehat. Namun ya itulah. Tak ada pilihan lain kecuali wajib menjalani tanpa boleh mengeluh apalagi melawan. Sedikit melawan bom ledakan amarah bisa-bisa aku terima dari kakak panitia.Dendamku makin kesumat kepada panitia tapi hilang dalam sekejap dendam itu ketika aku menerima pelukan maaf dari kakak-kakak panita sebagai berakhirnya acara ospek hikmah dari itu semua atau  tempaan itu mengajarkan nilai hidup tentang kesabaran,ketabahan,kekuatan dan iklas dalam setiap ujian.Luar biasa pelajaran pertama yang aku terima di kampus  unik dan bersejarah ini.

Akhirnya kujalani hari-hariku sebagai mahasiswa Asdrafi dengan mengikuti alur kehidupan yang mengalir begitu halus yang setiap saat memprovokasi mind setku sehingga yang tadinya aku sangat bercita-cita ingin menjadi pemain film atau sinetron perlahan kupupus dan kuredam sendiri. Karena kapasitas dan tampangku kurang mendapatkan modal yang kurang edeal. Kalau ingin menjadi pemain film tampangnya harus ganteng ganteng sekalian.Kalau jelek jelek sekalian padahal tampangku pas-pasan.Semester demi semester kulalui walau pembayarannya bisa dicicil, kayak kredit panci aja dan aku pernah melalui sebuah proses yang ekstrim dan mengasikkan dengan mengambil keputusan mengontrak sebuah rumah dipantai parangkusumo. hari-hari parangkusumo adalah hari tempaan untuk membangun skill dan mentalku. Teriakan AIUEO adalah teriakan wajib yang bertujuan menantang dan melawan arus angin dan deburan suara ombak untuk memperkuat dan mengolah jiwa dan ragaku. Banyak value hidup yang bisa kupetik dari alam pantai kawah candra dimuka ini, dan aku sering menyebut ini adalah ruang belajar selain dikampus Asdrafi aku selalu menyebutnya sebagai universitas luar biasa yaitu universitas alam semesta fakultas kehidupan jurusan kejadian.

Rektor dan sekaligus pemiliknya adalah Allah sang pencipta alam raya. Inilah sekelumit perjalanan tanpa bermaksud membiografikan diri sendiri. Tapi buatku ini adalah perjalanan awal yang sangat penting untuk menentukan arahku mau kemana?. Hingga akhirnya aku mantap memutuskan fikiran, kreatifitas dan tubuhku untuk seni bahasa tubuh,gerak,imajinasi yang bernama seni PANTOMIM.

Aku begitu sangat terpikat dengan pantomim selain skill itu bagian dari mata kuliah. Yang memotivasi dan membimbingku adalah seorang dosen Asdrafi yang bernama Pak Dedi Ratmoyo beliau banyak mempengaruhi mind setku secara positif dalam mengsikapi hidup dan kesenimanan yang akan aku jalani. Dengan perpaduan seorang kakak, senior dari dosenku mas masrumbara juga beliau seorang maha guru yaitu papi moortri purnomo lengkap rasanya pantomimer yang kusandang memiliki bobot keaktoran mime. Aku bersyukur berproses di yogyakarta yang kata orang bisa diperhitungkan dikancah ngayogyakarta yang notabene sebagai markas besar kesenian terbesar yang mencetak generasi- generasi seniman-seniman hebat.

Seiring terpaan value kehidupan mungkin merasuk cukup kuat dalam hidupku. Yang membongkar bawah sadarku yang buruk. Mampu meluluhkan pemikiran pemikiran yang posif dalam membangun attitude dan character building secara lebih universal.

Ego, sombong, munafik,tak peka lingkungan menggampangkan masalah meremehkan orang lain dan buruh-buruh yang sejenisnya. Dihancur leburkan oleh pembelajaran yang luar biasa lewat Universitas Alam Semesta fakultas kehidupan jurusan kejadian. Sehingga melakukan pribadi yang positip karena bagaimanapun hebatnya seorang seniman tetap harus berperilaku yang wajar selayaknya masyarakat umum yang hidup dalam harmonisasi kehidupan. Tak pernah menyesal aku terjerembab masuk dalam kehidupan seni. Karena disinilah rumahku sebagai ruang ekspresi, jati diri dan eksistensi. Merasa sudah cukup aku mendapatkan ilmu di  Asdrafi. Sehingga aku putuskan hijrah ke Jakarta beberapa kali walau akhirnya menyerah oleh keadaan dan pulang ke Jogja dengan sedih…tapi cepat move on ketika Asdrafi lewat Mas Dedy mempercayakan mengajar pantomime dari sini makin mantap langkahku pantomime sebagai pilihanku. Dengan torehan-torehan karya selalu kutampilkan di ruang seni taman budaya atau kantong-kantong seni. Dan keberadaanku sebagai pantomime makin kuat. Kujalani hari-hari sebagai dosen sangat menyenangkan dan makin member motivasi hidup buatku. Artinya prinsip belajar tanpa henti selalu ku praktikkan dalam proses hidupku. Sehingga aku tertantang untuk mengolah ide mengembangkan kurikulum yang sudah ada. Sehingga mengolah skill pantomime dan mentrasfer ilmu-ilmu pantomime ke mahasiswa itu menjadi lebih terarah dan teratur. Hari-hari mengajar adalah hari-hari yang menyenangkan serasa makin PD karena pengakuan sebagai Dosen mempengaruhi psikologis mentalku.

Dengan pakaian 1 stel yang kupunyai, baju hem yang kumasukkan nggak rapi. Dan hanya untuk mendukung supaya penampilanku standard layaknya pengajar,rambut panjangku yang biasanya ku biarkan kali ini kuikat rapi seklimis-klimisnya. Dengan suara berat ku yang bermaksud menciptakan kewibawaan…. Namun semua itu sia-sia, aku adalah aku, Riza adalah Riza standarisasi yang kukatakan tadi hanya manipulasi dan kamueflase saja, karena apapun yang kukemas secara teknis tapi tidak mampu mendongkrak kendesoanku dan penampilan luguku. Tapi aku optimis…mahasiswaku tak akan memperdulikan aku atas penampilan yang kumiliki. Sehingga aku berberdamai pada diriku sendiri dan tak perlu menyesal….dan segala pilihan penampilan yang ku ambil membawa konsekwensi logis…menyebabkan sulitnya saya untuk akuuntuk  mencari jodoh, karena keanehan penampilan yang kumiliki…tapi aku bersyukur ternyata .Tuhan masih mengirimkanku sesosok wanita yang buru masuk kampus Asdrafi sebagai mahasiswa baruku.Tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkannya karena wanita ini sangat memahami kedesoanku dan keputuskan secara mantap untuk menikahinya wanita yang sedang menjadi istriku. Dia adalah Elly Ernawatie nama populernya adalah Nina Artha dan akhirnya kami bahagia Tuhan memberi karunia berupa karya yang lahir dari .perkawinan kami yaitu  satu anak yang kuberi nama Faiza Fitria.

Pengumuman dan Undangan Peluncuran Buku Kumpulan Puisi HSN 2018 Yogyakarta

Pengumuman dan Undangan Peluncuran Buku Kumpulan Puisi

 

SULUK SANTRI

Kumpulan Puisi 100 Penyair Islam Nusantara

 

Tabik!

Kami sampaikan terima kasih kepada 200 lebih penyair yang telah mengirimkan karyanya sebagai upaya terlibat dalam penyelenggaraan Hari Santri Nasional 2018 untuk wilayah Yogyakarta. Kami tidak mengira antusiasme masyarakat sangat besar. Akan tetapi, sebelumnya telah kami sepakati pembatasan-pembatasan yang tidak memungkinkan untuk menampung seluruh karya puisi yang masuk.

Selanjutnya, kami sampaikan selamat kepada para penyair yang telah lolos seleksi oleh tim kurator. Ada 100 penyair yang puisi dimuat dalam buku Suluk Santri; Kumpulan Puisi 100 Penyair Islam Nusantara.

Nama-nama penyair tersebut adalah:

A Husain Bahril Ulu
Abdul Manaf
Abqoriyyan Yalmak
Ade Marhamah
Ade Riski Rahmawan
Ahmad Radhitya Alam
Ahmad Solehhuddin Al-Ayubi
Ahsanu Taqwim
Aisyah Khoirunnisa
Akhmad Husaini
Alfina Farah
Anjani Daniyil Khoiroh
Annisa Khafidzah
Aprilia Dirgantini
Aridlah Sendy Robikhah
Aufi Maitsa Ifada
Aulia Normalita
A’yat Khalili
Bachtiar Luthfi
Bardikari Jatmiko
Bela Nur Hikmah
Cep Subhan KM
Chamim Kohari
Daviatul Umam
Depi Zahrah Irhamni
Em Hanif Maulana
Endy S Johan
Fadlla Arina Manasikana
Fahad Fajri
Fajrian Andi
Fatimah Choirunnisa’
Gustu Sasih
Hafizhah Nurdini
Hana Sadjidah
Hanif Rizal Hidayat
Hendri Krisdiyanto
Heny Anggreini
Ibna Asnawi
Idlohatud Dilalah
Imam Budiman
Indah Fikriyyati
Inggrid Putri Diandini
Jamal Wakhiddin
Juwita
Kartika
Khatibul Umam
Khusnul Fatimah
Kukuh S. Aji
Larasati Kurniasari
Latif Yoga P
Lela Lerian
Lilik Muntiah
Lulu Karima Kusnaedi
Lu’lu’il Maknun
Muhammad Faizul Kamal
M. Da’i Robbi
M. Hasan Abdilah
Mahfud RD
Maria Ulfa Dwi P
Mazdan Maftukha Assyayuti
Mohamad Alwi
Mohammad Ilyas
Muhamad Arifin
Muhammd Faiz Romadon
Muhammad Hussaini
Muhammad Idham Kholid
Musthafa Rojak
Nafis Satur Rohmah
Nastain Achmad
Niam At-Majha
Ni’am Khurotul Asna
Nur Afifah
Nur Afifi
Nur Laila Zulfa
Parhan Saepul Hikmah
Qhusaila el Mabruroh
Qiey Romdani
Qoni Atu Zahro
Ratna Wulandari
Rendy Jean Satria
M Ridho Muslim G.
Ronaa Nisa’us Sholikhah
Seno Aji Pradana
Seruni Unie
Sherens Devi Saputri
Sulisman
Sulthon Amanulloh
Syarif Hidayatullah
Syifa Khoirul Hafidz
Teguh Pranoto
Trimanto B. Ngaderi
Ubaidah Nurjanah
Umi Khoiriyah
Ummi Ulfatus Syahriyah
Wasis Zagara
Yusuf Haryono
Zahrotul Asma’

Atas terbitnya buku tersebut, kami mengundang para penyair untuk datang pada acara perayaan buku SULUK SANTRI, Kumpulan Puisi 100 Penyair Nusantara pada:

Hari/Tanggal       : Jumat/12 Oktober 2018

Pukul                     : 18.00 – 20.00 WIB

Tempat                : Lapangan Ali Maksum (Venue Utama HSN 2018 Wilayah Yogyakarta)

Perlu diketahui bahwa dalam perayaan buku tersebut, panitia tidak menyediakan akomodasi dan transportasi. Silakan para penyari datang sendiri. Sebagaimana kami janjikan, kami akan mengirimkan 1 eksemplar buku kepada para panyair. Konfirmasi kehadiran dan alamat pengiriman bisa dilakukan dengan menghubungi nomor panitia 0823-1311-4844.

Demikian pengumuman dan undangan ini kami sampaikan.

 

Salam.

Panitia Divisi Sastra HSN 2018 Yogyakarta.